Kepala BKKBN Hasto Wardoyo: Pendidikan Seksual Jangan Dianggap Tabu

Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Hasto Wardoyo mengatakan, pentingnya mengubah persepsi tentang pendidikan seksual, mengingat pendidikan ini sangat perlu dilakukan sejak dini, bahkan kepada anak anak. Pendidikan seksual, menurutnya, tidak sekadar tentang hubungan seksual, melainkan juga perlindungan kesehatan sehingga jangan dianggap tabu. Ia menyarankan memulai pembicaraan edukasi seksual dari sisi kesehatan, disesuaikan dengan kebutuhan usia, dituangkan dalam materi yang menarik dan penyampaian yang baik.

"Agar anak nyaman, pemberian materi oleh guru atau coach sebaiknya yang berjenis kelamin sama dengan anak," kata Hasto dalam webinar, Rabu (29/9/2021). Hasto tidak memungkiri, dalam era globalisasi ini, anak dan remaja cenderung lebih mempercayai informasi dari dunia maya dan teman sebaya sehingga orang tua memiliki tantangan tersendiri untuk menyampaikan nilai nilai luhur kepada anak. Karena itu, diharapkan orang tua mau belajar agar dapat mendidik anak sesuai zamannya.

Guna membantu para orang tua dan pendidik, serta mengoptimalkan program program edukasi tersebut, BKKBN memiliki jejaring penyuluh yang terdidik. Termasuk di dalamnya, Duta Genre (Generasi Berencana), yaitu para penyuluh muda yang bertugas melakukan sosialisasi KB kepada rekan sebayanya. Duta GenRe Indonesia Putra 2021 Fiqih Aghniyan Hidayat menyebutkan, berdasarkan data dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, pada 2020, terdapat lebih dari 64 ribu pengajuan dispensasi pernikahan anak bawah umur.

“Sebabnya, mungkin karena di masa pandemi anak tidak ke sekolah jadi akhirnya memilih menikah, serta adanya faktor ekonomi keluarga. Selain itu, karena terjadi kehamilan tidak diinginkan, di mana pola asuh keluarga kurang berjalan baik di masa pandemi ini,” jelas Fiqih. Guna menekan lonjakan pernikahan dini tersebut, terdapat beberapa strategi preventif yang dijalankan oleh Duta GenRe bekerja sama dengan berbagai pihak. Di antaranya, memberikan pendampingan sebagai konselor sebaya, memberikan bantuan logistik supaya meringankan beban keluarga terdampak, serta Gerakan Kembali Ke Meja Makan untuk membangun kembali pola asuh yang baik dan komunikasi keluarga. Ia juga menjelaskan, BKKBN melalui Duta Genre melaksanakan Program #2125, berupa edukasi usia ideal minimum pernikahan adalah 21 tahun untuk wanita dan 25 tahun untuk pria, dalam rangka meminimalisasi terjadinya pernikahan dini.

“Bersama remaja Indonesia, kami menjadi pelopor remaja yang terencana dan bisa mempersiapkan pernikahan dengan 2125,” tandas Fiqih. Untuk sebuah pernikahan, perencanaan dan persiapan memang mutlak diperlukan, termasuk dari sisi psikologis pasangan dan pertimbangan finansial. Psikolog Inez Kristanti mengatakan, punya anak dan berkeluarga itu butuh kesiapan psikologis dan sebaiknya direncanakan dengan matang. Pasangan yang siap secara psikologis akan membantu mereka jadi orang tua yang baik, bisa mendidik dengan benar, lebih bahagia. Setelah menikah, pasangan harus bisa menjadi satu tim dan tidak bersaing.

"Sebelum membangun keluarga, menurutnya, diperlukan banyak persiapan seperti pemeriksaan kesehatan, konseling pernikahan, persiapan keuangan, juga menyelaraskan rancana dengan pasangan," katanya. Perencana Keuangan, Rista Zwestika menggarisbawahi perlunya penyelarasan rencana dan keterbukaan tentang keuangan sebelum pasangan memasuki jenjang pernikahan. “Sekarang topik perencanaan keuangan dengan pasangan bukan lagi hal tabu,” tegasnya.

Waktu yang sama, Rista juga memberikan nasihat terkait pengaturan keuangan keluarga ketika pencari nafkah kehilangan pekerjaan sebagai dampak pandemi. “Cek dulu berapa persen pendapatan yang hilang, aset apa saja yang ada, dan pisahkan prioritas pengeluaran menjadi wajib, butuh, dan ingin. Kita lihat peluang pekerjaan atau tambahan penghasilan apa yang bisa dilakukan, aset apa yang bisa dicairkan, serta pengeluaran yang dapat dikurangi. Intinya, harus bangkit sebagai satu tim,” tutupnya. Adanya perencanaan yang matang, kesiapan psikologis, serta edukasi yang sesuai, diharapkan akan menekan kemungkinan terjadinya kehamilan yang tidak direncanakan serta mengurangi risiko pernikahan dan perceraian usia dini.

Artikel ini merupakan bagian dari KG Media. Ruang aktualisasi diri perempuan untuk mencapai mimpinya.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Lifestyle

Selain Mengeringkan Rambut, Inilah Manfaat Lain JMW

Sudah bukan rahasia lagi kalau JMW hair dryer adalah benda ajaib yang bisa menjaga keindahan bentuk rambut, karena JMW hair dryer mampu mengeringkan gaya rambut dan membuatnya lebih bervolume, sehingga rambut terlihat lebih menarik. Sedikit yang tahu bahwa pengering rambut bisa digunakan untuk keperluan lain yang bisa menghemat waktu dan tenaga. Berikut adalah manfaat menggunakan […]

Read More
Lifestyle

Apa Saja 4 Bahan Baku Daging Imitasi untuk Vegetarian?

Pernahkan Anda menyantap makanan enak di Magelang berupa steak daging, namun ternyata daging tersebut adalah jamur? Kok, bisa dari jamur menjadi daging? Bagaimana caranya?   Makanan vegetarian tidak melulu hanya sayur segar yang direbus dan ditumis. Jika sayuran tersebut diolah lebih lanjut, bisa disulap menjadi daging imitasi yang vegetarian-friendly. Misalnya seperti steak, nugget, bacon, otak-otak, […]

Read More
Lifestyle

Cripto Crash Paling Menyeramkan Sepanjang Sejarah

Apa yang pertama kali terlintas dalam pikiranmu begitu mendengar kata kripto? Yup, mungkin kamu sudah terbayang dengan berbagai term yang berkaitan dengan sistem keuangan yang sifatnya modern. Apalagi aplikasi kripto Indonesia kini sudah menjamur dan memiliki kualitas-kualitas yang semakin baik, salah satunya Nanovest yang menyediakan pasar cripto dengan pilihan beragam. Namun, tahukah kamu bahwa sebagaimana […]

Read More